Sabtu, 16 Juli 2022

Review Drakor : Extraordinary Attorney Woo (Pengacara Penyandang Autis Pertama di Korsel)

at Juli 16, 2022

 

   Berawal dari kebiasaanku multitasking alias nyetrika sambil drakoran 😌, akhirnya kuputuskan mencari info drakor apa yang sedang hits. Ternyata ada beberapa drakor baru yang lumayan jadi perbincangan yaitu: Eve, Extraordinary Attorney Woo, Anna dan Yumi Cell's 2. Kemudian ku bacalah sinopsisnya yekan biar ada bayangan dikit gitu. Akhirnya kuputuskan menonton Anna. Loh kok ganyambung sama judul Minter ? (red: singkatan dari admin writer hoho). Jadi gini guys biar kujelaskan agak panjang intronya emang hahahaha. So, aku menonton Anna terlebih dahulu karena Bae Suzy si aktris cantik multitalenta yang gak diragukan lagi aktingnya doi kan semacem sweetheartnya korea gitulah, tapi jujurly, aku udah suka akting mba Suzy dari jaman Dream high (yang tau pasti sekarang udah uzur wkwkkw). Yaudah deh nonton, seru! tapi  reviewnya next post aja yak! hehehe

teruss, akhirnya selesai namatin Anna mulai deh Minter bimbang, galau, hampa mau nonton apa lagi  ya? nyoba nonton Yumi Cell's 2 ternyata belum dapet feelnya jadi pending dulu deh, padahal agak kangen juga sama sel-sel yumi yang lucu bin imut hihi. Kalau nonton Eve kok sinopsisnya rada berat gitu ya kayak ada pelakor-pelakornya gitu berhubung Minter lagi gamau buang energi alias bakal emosi kayaknya dan lebih memilih mengalihkan energi buat nyetrika, alhasil jatuhlah pilihan ke drama Extraordinary Attorney Woo yang bisa ditonton di Netflix ya guys! 


 

Nah, kembali lagi ke judul! 

Meskipun yang pertama diantara list tadi yang ku tonton adalah Anna dan emang drakornya bagus juga asli, tetapi drakor Extraordinary Attorney Woo yang memotivasiku menulis review karena apa? temanya menarik banget guys! iya, bayangin deh, seseorang dengan disabilitas yang masih melekat dianggap oleh masyarakat sebagai 'anak bawang' ternyata bisa loh berkontribusi di profesi yang menurutku lumayan berat. Yups! Woo (nama panggilan mawar,eh! ga deng maksudnya nama pemeran tokoh utamanya hehe) menjadi seorang pengacara di drama ini. Dikisahkan Woo adalah penyandang Autis dengan minat terhadap hukum daaaaannn ikan paus hahahah gemess. 

    Selain itu penulis skenario atau para produser dan semua kru yang terlibat seolah satu visi dan misi untuk memberikan informasi mengenai penyandang Autis. Selama ini kita pasti pernah atau sering mendengar istilah Autis tanpa benar-benar mencari tahu apa sih Autis itu? melalui drama ini kita sedikit banyak diberi informasi mengenai penyandang Autis dengan cara yang gak perlu repot-repot ( cocok banget kan hey buat kalian yang mageran! hahahaha). Nah, secara gak sadar kita di edukasi juga loh dari informasi-informasi yang diberikan seperti bagaimana harus bersikap saat menghadapai penyandang Autis seperti yang di kisahkan dalam dramanya di episode  3. Di episode tersebut, pengacara Woo menghadapi kasus kematian mahasiswa muda yang terkenal cerdas fakultas kedokteran dari Universita ternama di Korea Selatan yang berasal dari keluarga mapan karena orang tuanya dalah penguasaha dibidang Farmasi (bukan bos babel yang jahat itu yee beda drama wkwk) dimana mahasiswa muda ini memiliki adik penyandang Autis. Nah, ada satu kondisi dan situasi yang menyebabkan si adik penyandang Autis ini menjadi seorang terdakwa. Waduw! kok bisa sih Minter? lengkapnya nonton aja ya guys. Apa mau di ceritain? tulis dikomen ye kalo mau, kalo gak yaudah wkwkw. Nah, ortu si penyandang Autis ini minta firma tempat si pengacara Woo bekerja untuk menangani kasus itu (sama tim sih dia kaga sendirian cukup kalian aja yang sendiri. Loh?). Yaudah jadilah tim yang salah satunya Woo ini menangani kasus tersebut. Untuk kelengkapan berkas pembelaan tentunya sebagai pengacara butuh pernyataan dari terdakwa kaaaannn. Masalahnya adalah... membangun komunikasi dengan penyandang Autis harus dengan cara unik. Awalnya mereka pakai cara biasa tuh sebelum sadar kalo metodenya salah wkwkw, jadi mereka pakai cara bertanya seperti ke orang tanpa disabilitas alias to the point. Alhasil, ya kaga kejawab lah wkkwwk.

     Sedikit yang ku tangkep dari episode ini, ternyata autis itu banyak jenisnya guys ( Woo ngejelasinnya pake perumpaan ikan paus yang juga banyak jenisnya ternyata) soalnya kan di awal dia menangani kasus ini dianggap sama timnya akan lebih mudah memahami karena sama-sama penyandang Autis, ternyata Woo ngebantah kalau Autis gabisa di samaratakan banyak spektrumnya gitu ( CMIIW). Setelah pakai cara pertama salah akhirnya Woo mulai memikirkan cara lain. Yak dia kemudian berbincang dengan ayahnya mengenai perasaannya memiliki anak Autis setelah panjang lebar ayahnya cerita eterus di cuekin ama Woo wkwkw kesian. But, his okay! karena udah tahu. Jadi kesimpulan obrolan mereka, memiliki anak penyandang Autis itu kayak kesepian, sendirian gitu karena mereka penyandang Autis seperti memiliki dunianya sendiri. Ya, mereka fokus dengan dunianya. Tapi, ada satu cara ayahnya bisa mengambil fokus atau perhatian si Woo kecil (flashback: saat ia merajuk di sebuah warung) dengan mengaitkan perilaku anaknya dengan pelanggaran undang-undang. Ayah Woo said: Anak autis pasti memiliki sesuatu yang dia sukai. kalau Woo kecil suka dengan pasal-pasal hukum berarti kliennya ini bisa di alihkan fokusnya dengan hal yang disukainya : musik atau lagu. Nah dari situ Woo mulai ada inspirasi tuh, kliennya kan suka dengerin lagu penguin gitu judulnya Pengso. Asli kalian harus nonton episode ini wkwkwk lucu dan enak banget lagunya hahahah. Btw, Pengso itu Penguin. Jadi si kliennya ini suka ama penguin hihihi (oh iya, secara mental di sebutkan usia mental sang klien berkisar 10 tahunan, tubuhnya dewasa tapi yah). Sampai akhirnya mereka bisa mendapat pernyataan terdakwa dengan cara nyanyi bareng lagu Pengso wkwkwk


baru deh terdakwa bisa di ajak berkomunikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat kejadian malam itu dan bisa membebaskan terdakwa dari tuntutan pidana.

itu hanya salah satu episode yang berkesan sekali buatku hehe.ohiya, dari tiap episodenya seperti ada pelajaran yang bisa diambil bahwa anak autis juga mampu menjadi seorang genius ( Woo dikisahkan adalah lulusan pengacara dengan skor tertinggi), mereka juga bisa loh merasakan empati meskipun dengan cara mereka sendiri yang mungkin samar bisa kita ketahui, Scene ini di tunjukkan saat Woo menangani kasus seorang ibu yang dituduh melakukan pengeroyokan Woo berempai pada anak dari ibu tersebut dan memikirkan nasib si anak apabila ibunya dipenjara. Informasi lain seperti penyandang autis tidak suka skinship dilihat dari beberapa scene ketika teman Woo hendak merangkulnya, tidak menatap fokus pada lawan bicara dan polos. Ada salah satu scene dimana Woo mengatakan tak bisa membedakan itu adalah sebuah kebohongan atau bukan maka dari itu mereka sebenarnya mudah di tipu. dan dalam drama ini di gambarkan juga jika penyandang autis bisa memiliki teman. Mereka memiliki dunia sendiri bukan berarti tidak bisa berteman hanya saja, perlu seseorang yang mampu memaklumi segala keunikan dan kepolosannya. 

    Nah, sebagian dari kita pasti kepikiran yah gada romancenya dong ? serius banget dramanya? males ah. 

 


 

No, drama ini ringan menurutku untuk ukuran drama bertema hukum ya. Ada lucunya dari tingkah polos Woo. Untuk romance di beberapa episode mulai keliatan sih ada romancenya meski samar. Karena masih on going aku juga penasaran bagaimana penulis atau sutradara menggambarkan penyandang autis mengenai perasaan 'cinta' atau ketika dihadapkan oleh cinta akankah ada? atau tidak? let's see...



 

menurutku drama ini sangat worth it untuk di tonton! 

akhir kata, terima kasih sudah membaca review ala ala ini sampai akhir! next review apalagi ya?

 


 

 

 wassalam'ualaikum wr wb...

 

Regards, 

MinterπŸ’“

 

0 comments:

Posting Komentar

Review Drakor : Extraordinary Attorney Woo (Pengacara Penyandang Autis Pertama di Korsel)

     Berawal dari kebiasaanku multitasking alias nyetrika sambil drakoran 😌, akhirnya kuputuskan mencari info drakor apa yang sedang hits. ...

 

Review suka-suka Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea